Bismillahirrahmanirrahim
Akhir-akhir ini budaya bersepeda semakin menigkat di era new normal ini. Menurut direktur Institute or Transportation and Development Policy (ITDP) Indonesia Faela Sufa bahwa meningkatnya trend bersepeda akhir-akhir ini disebabkan oleh karena disatu sisi masyarakat khawatir terpapar virus, disisi lain mereka harus melakukan kegiatan diluar rumah. Sehingga tuntutan keluar rumah dengan aman dapat dipenuhi cara bersepeda. Hal ini tentu berbeda bila masyarakat keluar menggunakan kendaraan umum, potensi mereka terserang virus corona lebih berpotensi besar dibandingkan dengan mereka yang menggunakan kendaraan pribadi terutama sepeda. Selain itu sepeda juga berguna sebagai alat transportasi yang juga bisa sekaligus digunakan untuk menjaga kesehatan tubuh. Ditambah lagi dibeberapa kota besar Indonesia mulai berencana membuat jalur sepeda lebih banyak lagi agar sedikit-demi sedikit Indonesia menjadi negara yang ramah terhadap lingkungan.
Tetapi disini gue akan sedikit bercerita tentang pengalaman gue bersepeda yang sedikit berbumbu bersepeda menjadi sebooming seperti saat ini. Pada tulisan gue sebelumnya, gue menceritakan sedikit pengalaman gue bersepeda ketika gue masih SD sampai gue kuliah. Tetapi cerita yang gue tulis dfitulisan sebelumnya cuman sekilas aja. Di blog tulisan kali ini, gue akan menceritakan gfimana nano-nano rasanya menjadi seorang pesepedadi tengah-tengah lingkungan yang dikuasai oleh raja jalanan (motor dan mobil). Pengalaman itu akan gue rangkum dari pengalaman gue bersepeda selama gue menggunakannya transportasi sepeda untuk pergi ketempat-tempat yang harus gueb tuju kala itu.
Tujuh belas tahun hidup di Jakarta dan 7 Tahun hidup di Malang Raya memberikan sedikit gambaran bagaimana kondisi jalanan di Indonesia (saya bandingkan sama film2x ketika masih rutin nonton ilm kala itu). Mengutip dari cnbcindonesia.com gubernur DKI Jakarta Anies Rasyid baswedan mengatakan bahwa "Jakarta merupakan salah satu "kota dengan pejalan kaki terendah didunia". Hal tersebut terjadi "karena kami (pemerintah) membangun jalan untuk roda. Kita tidak membangun jalan untuk kaki" (2/11/2019). Semoga Allah senantiasa menjaga pemerintahan kita di Indonesia terkhusus pemerintahan Jakarta. aamiin. Karena rancangan jalan-jalan diperuntukan untuk kendaraan beroda (terkhusus kendaraan bermotor) sehingga bersepeda menjadi kurang nyaman dilakukan kecuali untuk sekedar rekreasi dan olahraga santai di komplek maupun olahraga ketika car free day.
Diantara pengalaman-pengalaman yang kurang mengenakan ketika bersepeda adalah : Pertama, pengguna sepeda seperti termarginalisasi di antara banyak kendaraan bermotor karena sedikitnya pengguna sepeda di Indonesia kala itu. Kedua, pengguna sepeda kecepatan tempuh pesepeda dipaksa harus menyamai kecepatan tempuh kendaraan bermotor dikarenakan tercampurnya antara kendaraan bermotor dan sepeda membuat terhambatnya laju tempuh kendaraan bermotor yang memang dirancang untuk bergerak lebih cepat daripada sepeta karena terhalang oleh laju tempuh sepeda. Ketiga asap polusi kendaraan membuat pernapasan pengguna sepeda terganggu, mengingat olahraga sepeda sendiri merupakan salah satu dari aktivitas cardio (aktivitas yang memacu detak jantung) dan olah raga aerobik (latihan yang menggunakan pasokan oksigen untuk mempertahankan aktivitasnya) maka polusi udara tentu akan mengganggu kegiatan aktivitas bersepeda. Keempat, pengguna sepeda menjadi termarginalisasi dari pergaulan teman-teman sebayanya. Mungkin tidak banyak yang merasakan ini, tapi ini benar adanya. Hal ini disebabkan karena mayoritas teman sebayanya sedikit yang mau mengambil resiko dengan menjadi pesepeda karena ketiga resiko diaatas ketika mereka menjadi sepeda, pengguna sepeda kerap sulit untuk menghadiri pertemuan-pertemuan pergaulan mereka yang mungkin karena disebabkan oleh jarak yang jauh sehingga tidak bisa mengikuti pertemuan-pertemuan mereka, atau pesepeda sudah terlalu capek jika ia harus mengikuti pertemuan-pertemuan selainnya jika oa terus kesana dan akhirnya memutuskan untuk ala dari pertemuan-pertemuan tersebut. Kelima, Status sosial pengguna sepeda tidak sebaik pengguna kendaraan bermotor. Hal ini terjadi karena jalan-jalan yang dirancang untuk kendaraan bermotor membuat orang-orang ingin meraih kenyamanan pada kendaraannya, hal ini adalah kendaraan bermotor. Hal tersebut membuat gaya hidup berkendara menjadi tertuju pada kendaraan bermotor terutama kendaraan mahal seperti motor gede dan pengguna mobil.
Contoh kasus dari pengalaman gue sendiri ketika gue memakai sepeda sebagai alat tronsportasi utama gue. Waktu itu gue masih berstatus seorang mahasiswa di salah satu universitas di Malang. Selain kuliah gue juga mengikuti kegiatan-kegiatan komunitas di luar kampus yang jaraknya lumayan sehingga perlu menggunakan kendaraan. kendala yang gue inget ketika gue mengikuti kegiatan luar kampus dengan sepeda adalah : Satu, Jumlah energi yang digunakan lebih banyak dari pengguna motor, karena gue harus mengayuh sepeda dengan energi yang lumayan untuk pergi ketempat kegiatan gue dengan energi isik gue sendiri, bukan energi bensin. Dua, waktu ada kegiatan maraton (abis ada kegiatan satu, ada kegiatan lagi) biasanya gue jadi sering telat karena gue harus ngumpulin tenaga terlebih dahulu biar gue bisa mengayuh lagi dari agenda satu ke agenda selanjutnya lagi. Tiga, Tempat-tempat yang bisa gue kunjuungi gak bisa sebanyak dan sejauh temen-temen gue kunjungi dengan menggunakan motor , ya karena emang jauh banget dan karena tenaga gue bakal kelar banyak banget kalau harus maraton kegiatannya yang akhirnya membuat gue harus memilih antara dua opsi. Yaitu, pertama nebeng , kedua gue alpa dari acara itu.
Hal tersebut tidak hanya dialami gue seorang saja, tapi juga dialami oleh adik tingkat gue yang kuliah di Politeknik Negeri Malang (Polinema). Kebetulan kemarin dia baru membaca blog gue yang berjudul "Angin Segar Bagi Pesepeda Ketika New Normal" dan beliau sudah mengizinkan chat-chat gue dengan beliau dijadikan sebagai bahan untuk materi blog gue kali ini. Beliau mengatakan bahwa dia dulu pernah tertarik dengan budaya bersepeda masyarakat di Jepang, kemudia dia mencoba bersepeda didaerah sekitar rumahnya di Wagir, Malang. Hasilnya, "Subhanallah, jauh dari ekspetasi. Yang susah nyebrangnya, yang disalip motor/mobil dengan jarak yang dekat (banget), yang masih banya dilirik orang. Rasanya bersepeda memang masih kalah jauh dengan raja jalanan di Indonesia yaitu motor dan mobil".
O iya, gue kalau yang biasanya bergaul dilingkungan yang religius, lingkungan ikhwah-ikhwah salafy membuat dalam keseharian gue lebih sering menggunakan kata ganti orang yang merupakan kata ganti orang dalam bahasa Indonesia yang diserap dari bahasa arab, seperti ana, antum, anti dll. tetapi kalau gue sedang berada dirumah biasanya menggunakan bahasa Indonesia aja, soalnya kan kata "gue" dan kata "elo" itu termasuk bahasa yang kurang formal. Lebih jelasnya bisa dilihat di blog gue yang berjudul Seputar Kata "Gue" dan Kata "Lo". Oke, balik lagi ke blog. Intinya gue disini berusaha menyampaikan keresahan gue sebagai pengguna sepeda yang mungkin juga sependapat dengan para pengguna sepeda lainnya yang mungkin gak punya motor karena biaya, sehingga harus bekerja dengan sepeda pancalnya.
Alhamdulillah, ada sedikit harapan untuk mewujudkan pengalaman bersepeda yang nyaman bagi masyarakat Indonesia terkhusus Jakarta. Hal ini dikarenakan, pemerintah Ibukota DKI Jakarta berencana membangun jalur-jalur sepeda di Ibukota. Mengutip dari Kompas ubernur DKI Jakarta anies Rasyid Baswedan mengatakan, bahwa "kita akan meluncurkan jalur-jalur sepeda yang kita harapkan nanti warga Jakarta lebih banyak menggunakan sepeda" ujar beliau di kawasan Monas Jakarta Pusat (17/9/2019). Kita doakan semoga ikhtiar pemerintah untuk membangun kota Jakarta yang ramah bagi para pesepeda dipermudah oleh Allah Subhanawataala, dan kita doakan pemerintahan kota-kota lainnya agar bisa membuat jalur-jalur sepeda juga supaya pesepeda di kota-kota lainnya dapat berkendara dengan nyaman. Aamiin.
Sumber :
-
Komentar
Posting Komentar