112 hari berperang melawan Corona

Bismillahirahmanirahim


Alhamdulillah, assholatuwasalam Ala Rasulillah
Amma Ba'du

Tepat tanggal 6 Juli 2020 hari Senin, untuk pertama kalinya semenjak anjuran socio distancing 15 Maret 2020 kami sekeluarga yang laki-lakinya kembali shalat berjamaah kembali ke Masjid. Hal tersebut dikarenakan beberapa hari sebelumnya penetapan zona merah di RW gue dan kelarga gue tinggal telah dicabut penetapannya dan dirubah menjadi zona kuning. Seharusnya pencabutan status tersebut sudah dilakukan sejak sebulan yang lalu. Karena sebenarnya kota tempat gue tinggal, Provinsi Jakarta Timur pada bulan lalu sudah memasuki zona kuning. Dikarenakan beberapa wilayah di DKI Jakarta yang masih terdapat warganya yang terjangkit oleh virus corona termasuk tempat kami tinggal, sehingga baru sekarang wilayah di RW  kami tinggal ditetapkan sebagai zona kuning. Alhamdulillah

 

Kurang lebih selama 112 hari kami sekeluarga menjaga diri dengan tetap dirumah saja demi tidak semakin berpotensi terkena ataupun tanpa sadar menjadi penular virus yang berasal dari Wuhan ini. Atau dengan kata lain kami sudah berperang selama 112 hari dengan Corona. Banyak tantangan yang kami hadapi ketika #DirumahAja selama kurang lebih 4 bulan ini. Dari sindiran dari seorang dai yang menggembosi usaha masyarakat sekitar rumah yang agar tidak dirumah aja, kebosanan yang terus menerus, kerinduan akan masjid, konflik dengan orang tua (Alhamdulillah udah dimafain), rindu mau main, dll. Alhamdulillah, Allah menguatkan kami sekeluarga agar kuat menghadapi wabah ini baik secara individu masing-masing agar tetap dirumah saja maupun secara umum. Dimulai dengan postingan-postingan ilmu tentang bimbingan Nabi Muhammad Shalallahualaihi wasalam ketika wabah melanda, Nasehat Asatidzah terkhusus Ust. Luqman Baabduh Hafidzohullah yang mengingatkan kepada kaum muslimin  melalui rekamannya dari tempat beliau mengajar (Pondok Pesantren Ma'had Minhajul Atsar Jember yang sangat menentramkan jiwa) bahwa bersabar dimasa-masa wabah seperti ini adalah amalan Jihad dijelaskan beserta syarat-syaratnya, seperti tetap sabar dirumah, dan tidak keluar dari negerinya hingga waktu yang ditentukan.Kemudian ada juga pertolongan Allah kepada kami berupa bantuan dari pemerintah, baik itu dari gubernur tercinta Bapak Anis R. Baswedan maupun dari Presiden Republik Indonesia semoga Allah menjaga keduanya beserta jajaran-jarananya dan dijauhinya mereka dari pembisik-pembisik yang jahat dan pembisik yang khianat. Aamiin.


Selama masa penantian yang gak pasti tersebut kami melakukan beberapa hal untuk mengatasi rasa bosan yang menghantui kami. Diantaranya, pada awal-awal pengumuman socio distancing dan PSBB, ami bersyukur sekali memiliki halaman rumah yang cukup luas, lebih-lebih Abi saat itu meluaskan halaman rumah sehingga dapat digunakan untuk bermain bulu tangkis. Lapangan rumah kami tertutup dari pandangan orang-orang dari luar rumah sehingga membuat saudari-saudari ku bisa bermain dihalaman tanpa mengenakan hijab. Oleh karenanya setiap pagi kami bisa bermain bulu tangkis, setiap hari bergantian dari gue sebagai kakak tertua hingga adik bungsu gue yang ke-6 yang usianya masih berusia 9 tahun. Alhamdulillah. Gue bersyukur masih punya halaman yang luas sehingga masih bisa bermain-main dirumah ketika masa-masa pandemi seperti ini secara syari, seperti yang dikatakan oleh Syaikh Sholeh Al-Fauzan semoga Allah menjaganya bahwa "olahraga badan, penguatan tubuh. dan kegiatan olahraga lain yang tidak ada kemaksiatan padanya, hanya semata-mata penguatan badan maka hal ini tidak mengapa" . Hal ini mengingatkan gue akan banyaknya orang-orang atau perusahaan olahraga yang masih kurang begitu perhatiannya akan masalah aurat baik untuk laki-laki maupun wanita.

 
Dua pekan setelah berjalannya socio pengumuman socio distancing , seorang teman gue dari Malang datang untuk melaksanakan pernikahan dengan adek gue yang selama ini jadi temen berantem gue dari kecil. Memang sebelum terjadi wabah corona di Indonesia beliau sudah datang ke rumah dan melamar adek gue (duh, gimana ini, abangnya aja belum nikah, kakanya udah disalip ama adeknya. Yaudahla ya gpp). Itu semua terjadi diluar jadwal yang seharusnya, karena isu lockdown ketika itu menyebar di media-media sosial. karena takut pernikahannya di Undur lagi, kami memutuskan untuk mempercepat pernikahan adek gue dengan penghulu ustadz kampung sendiri, Alhamdulillah. selamat ya dek atas pernikahannya, asli mas kanget tau dek... apaansih. wkwkwkwk



Semenjak adek gue menikah gue jadi punya waktu banyak buat mengembangin diri gue yang waktu itu lumayan tersita karena kepakai untuk membantu adek gue untuk mempersiapkan acara pernikahannya. ue mulai sadar gue harus diet, akhirnya gue coba aja diet dari awal april hingga Lebaran. Alhamdulilah atas izin Allah, Allah menurunkan berat badan gue sebanyakl 6-8 Kg, selain itu tangan gue juga udah mulai kuat. Sekarang gue udah bisa lagi melakukan Pull-up yang mana sebelumnya gue gak bisa sama sekali mengangkat badan gue dari tanah dengan kedua tangan gue. Alhamdulillah, semua itu karunia dari Allah untuk menggerakan hati gue untuk belajar bagaimana caranya diet yang benar, jenis-jenis macem-macem olahraga dan gerakan-gerakan angkat beban yang benar dengan alat seadanya yang berada dirumah. Semoga kedepannya bisa lebih maksimal lagi dalam berdiet, terutama dengan memasukan unsur beladiri pencak silat kedalamnya.

Berlanjut dengan panahan ketika bulan Ramadhan, karena Pakde gue yang mulai hobi panahan memberikan hadiah berupa satu set panahan kepada Haniah yaitu adik kandung ke-3 gue dan sepupu gue di Pirwokerto, membuat kami memiliki hobi baru yaitu panahan. Alhamdulillah gue berhasil menembak target tengah dengan skor tertinggi sebanyak 2 kali. yeay, Alhamdulillah. 

Kurang lebih itulah beberapa pengalaman gue dalam mengatasi kebosanan ketika masa pandemi PSBB, selain dengan bercocok tanam hidroponik yang gue ceritakan pada blog gue sebelumnya dan hal-hal lainnya yang tidak gue ceritakan di blog ini. Mohon maaf jika ada salah kata, Salam.....
 

Komentar