Dicintai oleh bintangmu sendiri (pelangi di putih biru)
Alhamdulillah buku BCB sudah datang. Buku antologi yang menceritakan tentang para orang tua yang dikaruniai seorang anak yang qadarullah merupakan anak berkebutuhan khusus.
Entah bagaimana perasaan sang orang tua ketika mereka terkejut akan kenyataan anak-anaknya yang tidak sesuai dengan harapan mereka. Diantara mereka ada yang diuji dengan anaknya yang mengalami gangguan mental, ada yang mengalami gangguan pendengaran, bahkan ada yang tidak memiliki kaki. Tapi semua itu harus diterima dengan sabar, harus dilewati dengan cinta yang besar. Karena mencintai seorang anak yang tidak sesempurna anak-anak lainnya yang pintar dan lucu-lucu tidak semua orang tua bisa, bahkan terkadang ada yang membencinya dan mengabaikannya.
Kebetulan di buku tersebut ada sedikit potongan kisah tentang bagaimana orang tuaku yang merawatku yang juga berkebutuhan khusus.
Mungkin sebagian teman-teman tidak mengetahuinya kalau pemilik nama alter ego Muhiro ini mengidap penyakit syndrom asperger dan disgrafia. Bahkan teman-teman dekatku di SMP dan SMA tidak mengetahuinya, karena ketidak inginanku untuk menerimanya. Selalu merasa diriku ini normal. Sehingga sering disudut ruangan air mata ini menetes dalam kerahasiaan ketika gagal melewati fase-fase pertumbuhan.
Meskipun begitu orang tuaku selalu saja meyakinkan bintang dalam diriku. ya, sebuah bintang. Sebuah ungkapan bagi seseorang yang bersinar dalam karirnya. Selalu dikuatkan untuk mampu melalui masa2x pertumbuhan terutama di masa-masa putih merah dan putih biru agar menjadi bintang. Setidaknya menjadi bintang bagi diriku sendiri. Yakni menjadi diri yang dicintai oleh bintangnya sendiri. Seperti judul blog yang kutulis di 1% blog kompetition. Yaitu mulai menerima keadaan diri sendiri dengan segala bintang (potensi) yang ada pada diri sendiri yang telah Allah karuniakan pada diri.
Bicara soal bintang, disini aku sebagai salah satu tokoh yang diceritakan dalam buku bukan cinta biasa. Saya akan menceritakan sebuah fase hidup yang menurutku sangat berarti bagi hidupku. Masa-masa ketika secercah asa yang hampir pudar Allah bangkitkan lagi dengan hadirnya para pemberi cahaya. Sehingga bintang yang ada dalam diriku tidak mati tenggelap bersama kegelapan dan kehampaan masa depan yang tak menemtu.
Masa-masa itu adalah masa-masa ketika mengenakan seragam putih biru.
Kisah ini bermula sekitar 1 tahun sebelum Allah mengkaruniakan kepadaku kesempatan mengenakan seragam putih biru. Yaitu ketika masa penentuan naik tidaknya diriku ke kelas 6 SD sekitar 17 tahun yang lalu tahun 2005 yang diserahkan kepada kedua orang tuaku dan diriku sendiri.
Kejadian ini baru kuketahui saat membaca tulisan ummi di buku Bukan Cinta Biasa (BCB) yaitu kejadian ketika guru sekolahku saat itu belum menuliskan hasil raportku apakah aku naik kelas atau tidak. Aku yang saat itu belum mengerti apa2x menangis tersedu-sedu kenapa diriku yang ingin hidup normal saja harus sesulit ini, bahkan ada sampai diancam tidak naik kelas. Sontak aku menangis terisak isak sambil mengatakan kepada kedua orang tuaku. "Imad mau naik kelas ummi" Imad mau lulus.
Hanya itu yang ada dalam benakku, aku ini sama dengan anak2x yang lainnya. kenapa harus dipersulit. Walaupun kenyataannya memanglah sulit, bahkan selama 5 tahun menjalani sekolah dasar aku hanya memiliki satu teman, dan selama itu pula aku sering menjadi bulan2xan teman sebayaku dan selalu tawaf sambil hidup dalam duniaku sendiri.
Pada akhirnya orang tuaku menyampaikan keputusan bahwa imad dibaikan ke kelas 6 dan siap mengikuti ujian nasional. Tapi dengan keputusan nekat itu aku harus kehilangan teman terdekatku. Yaitu teman dekat rumah yang bernama Ganang, teman terdekatku yang kebetulan juga memiliki kebutuhan khusus juga, yaitu berupa gejala "Hiperaktif".
Dia terpaksa tinggal kelas yang mana sebelumnya kami adalah langganan peraih ranking 1 dan 2 dikelas kami. Tapi dari bawah, sehingga masa-masa final kelas 6 ini harus kujalani sendiri. Berkat dukungan orang tua dan segala pihak masa2x penentuan itu bisa terlewati.
selain terlewati, terdapat secercah harapan yang begitu luar biasa yang mana jika bukan karena pertolongan Allah maka fase2x itu seperti muustahil terlewati dan berakhir masuk sekolah luar biasa (SLB) dan tidak bisa bersaikng dengan teman2xku yang normal saat ini.
Keajaiban pertama ujian kelulusan yang seharusnya ada bagian yang harus di isi secara esai ketika itu, entah kenapa pada tahun itu menjadi ditiadakan. Orang tua ku sangat senang keika itu padahal mereka sudah sangat gelap harapan sebelum-sebelumnya. Ini seolah seperti sebuah tamparan untuk diriku dimasa kini, agar terus maju ditengah kegelapan dengan penuh keyakinan walau yang ada ditanganmu hanyalah sebuah lilin. Karena jika terus maju Insyaallah kita akan sampai.
keajaiban kedua, adalah ketika Allah mempertemukan kedua orang tua ku dengan seorang guru kes yang begitu luar biasa dalam meraih hatiku dan oerhatianku sehingga pelajaranwx yang dahulu dirasa sulit serasa menjadi mudah dan menyenangkan
dan yang ketiga adalah ketika Allah karuniakan bagiku untuk merasakan bagaimana rasanya menjadi siswa yang memperoleh peringkat tiga. Bukan lagi peringkat satu dan dua (dari bawah) bahkan ketika pergantian semester dikelas 6 ranking ku diumumkan didepan kelas sehingga aku sangat malu menghadapi kenyataan dan tawa merendahkan dari teman2x, tapi kali ini peringkat tiga iti adalah sungguhan.
Peringkat tiga dari atas. Seolah tak percaya karena nilaiku cuma 6.5 tapi kenyataannya memang begitu. Teman-teman yang biasa membuliku seolah tak percaya bagaimana bisa seseorang yang biasa mereka buli, bodoh dan aneh bisa mengalahkan mereka kala itu.
Aku tak tau kejadian luar biasa itu akan terjadi. Dan aku tak percaya bahwa ranking 3 yang bag sebagian anak2x itu biasa saja tapi tidak bagi ku dan kedua orangtuaku. Padahal satu semester sebelumnya aku yang terbawah, tapi berkat rahmat dan karunia dari-Nya aku bisa melompati 33 teman sekelasku.
Terimakasih Abi, Ummi, Yangti, Adik2xku terkhusus Iffah, Ganang yang mau menjadi teman ku ditengah keanehanku
Jazaakumullahu khoiron
Alhamdulillah buku BCB sudah datang. Buku antologi yang menceritakan tentang para orang tua yang dikaruniai seorang anak yang qadarullah merupakan anak berkebutuhan khusus.
Entah bagaimana perasaan sang orang tua ketika mereka terkejut akan kenyataan anak-anaknya yang tidak sesuai dengan harapan mereka. Diantara mereka ada yang diuji dengan anaknya yang mengalami gangguan mental, ada yang mengalami gangguan pendengaran, bahkan ada yang tidak memiliki kaki. Tapi semua itu harus diterima dengan sabar, harus dilewati dengan cinta yang besar. Karena mencintai seorang anak yang tidak sesempurna anak-anak lainnya yang pintar dan lucu-lucu tidak semua orang tua bisa, bahkan terkadang ada yang membencinya dan mengabaikannya.
Kebetulan di buku tersebut ada sedikit potongan kisah tentang bagaimana orang tuaku yang merawatku yang juga berkebutuhan khusus.
Mungkin sebagian teman-teman tidak mengetahuinya kalau pemilik nama alter ego Muhiro ini mengidap penyakit syndrom asperger dan disgrafia. Bahkan teman-teman dekatku di SMP dan SMA tidak mengetahuinya, karena ketidak inginanku untuk menerimanya. Selalu merasa diriku ini normal. Sehingga sering disudut ruangan air mata ini menetes dalam kerahasiaan ketika gagal melewati fase-fase pertumbuhan.
Meskipun begitu orang tuaku selalu saja meyakinkan bintang dalam diriku. ya, sebuah bintang. Sebuah ungkapan bagi seseorang yang bersinar dalam karirnya. Selalu dikuatkan untuk mampu melalui masa2x pertumbuhan terutama di masa-masa putih merah dan putih biru agar menjadi bintang. Setidaknya menjadi bintang bagi diriku sendiri. Yakni menjadi diri yang dicintai oleh bintangnya sendiri. Seperti judul blog yang kutulis di 1% blog kompetition. Yaitu mulai menerima keadaan diri sendiri dengan segala bintang (potensi) yang ada pada diri sendiri yang telah Allah karuniakan pada diri.
Bicara soal bintang, disini aku sebagai salah satu tokoh yang diceritakan dalam buku bukan cinta biasa. Saya akan menceritakan sebuah fase hidup yang menurutku sangat berarti bagi hidupku. Masa-masa ketika secercah asa yang hampir pudar Allah bangkitkan lagi dengan hadirnya para pemberi cahaya. Sehingga bintang yang ada dalam diriku tidak mati tenggelap bersama kegelapan dan kehampaan masa depan yang tak menemtu.
Masa-masa itu adalah masa-masa ketika mengenakan seragam putih biru.
Kisah ini bermula sekitar 1 tahun sebelum Allah mengkaruniakan kepadaku kesempatan mengenakan seragam putih biru. Yaitu ketika masa penentuan naik tidaknya diriku ke kelas 6 SD sekitar 17 tahun yang lalu tahun 2005 yang diserahkan kepada kedua orang tuaku dan diriku sendiri.
Kejadian ini baru kuketahui saat membaca tulisan ummi di buku Bukan Cinta Biasa (BCB) yaitu kejadian ketika guru sekolahku saat itu belum menuliskan hasil raportku apakah aku naik kelas atau tidak. Aku yang saat itu belum mengerti apa2x menangis tersedu-sedu kenapa diriku yang ingin hidup normal saja harus sesulit ini, bahkan ada sampai diancam tidak naik kelas. Sontak aku menangis terisak isak sambil mengatakan kepada kedua orang tuaku. "Imad mau naik kelas ummi" Imad mau lulus.
Hanya itu yang ada dalam benakku, aku ini sama dengan anak2x yang lainnya. kenapa harus dipersulit. Walaupun kenyataannya memanglah sulit, bahkan selama 5 tahun menjalani sekolah dasar aku hanya memiliki satu teman, dan selama itu pula aku sering menjadi bulan2xan teman sebayaku dan selalu tawaf sambil hidup dalam duniaku sendiri.
Pada akhirnya orang tuaku menyampaikan keputusan bahwa imad dibaikan ke kelas 6 dan siap mengikuti ujian nasional. Tapi dengan keputusan nekat itu aku harus kehilangan teman terdekatku. Yaitu teman dekat rumah yang bernama Ganang, teman terdekatku yang kebetulan juga memiliki kebutuhan khusus juga, yaitu berupa gejala "Hiperaktif".
Dia terpaksa tinggal kelas yang mana sebelumnya kami adalah langganan peraih ranking 1 dan 2 dikelas kami. Tapi dari bawah, sehingga masa-masa final kelas 6 ini harus kujalani sendiri. Berkat dukungan orang tua dan segala pihak masa2x penentuan itu bisa terlewati.
selain terlewati, terdapat secercah harapan yang begitu luar biasa yang mana jika bukan karena pertolongan Allah maka fase2x itu seperti muustahil terlewati dan berakhir masuk sekolah luar biasa (SLB) dan tidak bisa bersaikng dengan teman2xku yang normal saat ini.
Keajaiban pertama ujian kelulusan yang seharusnya ada bagian yang harus di isi secara esai ketika itu, entah kenapa pada tahun itu menjadi ditiadakan. Orang tua ku sangat senang keika itu padahal mereka sudah sangat gelap harapan sebelum-sebelumnya. Ini seolah seperti sebuah tamparan untuk diriku dimasa kini, agar terus maju ditengah kegelapan dengan penuh keyakinan walau yang ada ditanganmu hanyalah sebuah lilin. Karena jika terus maju Insyaallah kita akan sampai.
keajaiban kedua, adalah ketika Allah mempertemukan kedua orang tua ku dengan seorang guru kes yang begitu luar biasa dalam meraih hatiku dan oerhatianku sehingga pelajaranwx yang dahulu dirasa sulit serasa menjadi mudah dan menyenangkan
dan yang ketiga adalah ketika Allah karuniakan bagiku untuk merasakan bagaimana rasanya menjadi siswa yang memperoleh peringkat tiga. Bukan lagi peringkat satu dan dua (dari bawah) bahkan ketika pergantian semester dikelas 6 ranking ku diumumkan didepan kelas sehingga aku sangat malu menghadapi kenyataan dan tawa merendahkan dari teman2x, tapi kali ini peringkat tiga iti adalah sungguhan.
Peringkat tiga dari atas. Seolah tak percaya karena nilaiku cuma 6.5 tapi kenyataannya memang begitu. Teman-teman yang biasa membuliku seolah tak percaya bagaimana bisa seseorang yang biasa mereka buli, bodoh dan aneh bisa mengalahkan mereka kala itu.
Aku tak tau kejadian luar biasa itu akan terjadi. Dan aku tak percaya bahwa ranking 3 yang bag sebagian anak2x itu biasa saja tapi tidak bagi ku dan kedua orangtuaku. Padahal satu semester sebelumnya aku yang terbawah, tapi berkat rahmat dan karunia dari-Nya aku bisa melompati 33 teman sekelasku.
Terimakasih Abi, Ummi, Yangti, Adik2xku terkhusus Iffah, Ganang yang mau menjadi teman ku ditengah keanehanku
Jazaakumullahu khoiron
Komentar
Posting Komentar