Sebuah syair yang menjadi hiburan ketika tahun pertama pandemi. Ketika gelombang corona mulai melandai untuk pertama kali. Tak disangka gelombang wabah itu ternyata naik lagi dan memberikan kesan mengerikan akan keganasannya.
Hingga maju mundur pernikahan dan nasib masa depan yang tak jelas. Segala pujian untuk-Nya yang telah mengangkat wabah ini, dan menyelamatkan iman-iman kita untuk melewati pandemi. Dan segala puji juga bagi-Nya yang memberi kekuatan kepada kita untuk tak pernah berputus asa dalam berdoa. Seperti keyakinan nabi Yunus, Nabi Ayub dan Nabi Musa Alaihissalam
Alhamdulillah. Tak pernah menyangka masa-masa sulit itu bisa terlewati. Terutama tanggal 16 Juli 20212 sampai 16 agustus 2021 di kampung halamannya istri dalam isolasi karena harus merawat kedua mertua. Meski ketika itu harus kehilangan beberapa orang-orang yang kucintai terutama Ayah mertua, paman, dosen yang sebenarnya gak terlalu banyak kenangan indah bersamanya tapi beliau adalah dosen yang benar-benar menghormati waktu shalat mahasiswanya, dan masih banyak lagi.
Tapi yang sangat disayangkan adalah fitnah corona tidak berakhir sampai sini saja. Terjadinya perpecahan di kubu salafiyin. Salah satu mahad dan ustadz kibar salafiyin di Indonesia dikabarkan melakukan perbuatan dan mengatakan ucapan yang menyelisihi amalan ahlusunnah. Semoga Allah kembalikan persatuan salafiyin di Indonesia. dan kita bisa mengakhiri hidup kita dalam keadaan istiqomahdan penuh akan bekal untuk menghadap-NYA.
JIka bekal kita cukup, maka pertemuan dengan-NYA tentu kita tak akan takut.
Hanya saja kita memiliki banyak hutang berupa dosa
Komentar
Posting Komentar